17
Jan
08

…harapan 2008

Lama juga tidak menulis. Setelah liburan di akhir
tahun kemarin. Hampir tak tau apa yang ingin di tulis dan dibagi. Semuanya
begitu indah. Hingga tak mampu tertuliskan dalam sebuah alinea, kalimat, bahkan
sebuah kata.

Dan tibalah kembali di awal
tahun. Sungguh waktu yang singkat untuk mengakhiri tahun kemarin. Tapi aku
bersyukur, karena semuanya di akhiri dengan kebahagiaan. Kalaupun ada sesuatu
yang masih terfikirkan olehku, mungkin adalah bertambah usia dan merasa masih
banyak yang harus aku kerjakan untuk diriku sendiri, keluarga dan semua orang
yang aku sayangi.

Semuanya tau, sifat
dasar manusia adalah tak pernah mengenal rasa puas. Karena itu jugalah yang
memacu semangat manusia untuk mendapatkan dan meraih segala keinginan yang telah
difikirkan ; Harapan.

Banyak yang aku
diskusikan dengan sahabatku –Uzer- kemarin. Tentang esensi hidup. Tentang
memaknai diri dan segala harapan-harapan seorang manusia –bernama Harry
Sanjaya- ini. Ketakutan adalah satu hal yang besar untuk selalu membayang-bayangi
setiap harapan ini. Uzer berkata, dia telah melewati fase itu. Dan ia berkata
hal itu tidak akan pernah hilang. Apa yang kami diskusikan hanyalah sebuah
pengalaman hidup. Dia hanya membagi apa yang pernah di alaminya. Dan aku
menjadi seorang pendengar yang baik. Dia bukan seorang yang sempurna. Dia hanya
menjadi seorang penutur untuk kisah hidupnya. Dan aku jadikan sebuah pelajaran
hidup untuk sebuah hal yang baik.

Di tahun kemarin, aku
masih merasa belum ber-Iman sepenuhnya. Iman dalam arti yang sesungguhnya. Iman
berarti percaya. Untuk satu hal yang ku anggap masih jauh, adalah Imanku pada diriku
sendiri. Untuk mencintai dan percaya pada diriku sendiri, aku masih sangat jauh
dari sempurna. Sangat tidak ber-Iman. Untuk hablumminALLAH,
hanya aku dan DIA yang tau. Dan hanya ingin ku bagi dengan DIA sepenuhnya.
Dalam doa dan sujud itu.

Adalah sebuah harapan
ini. Bisa menjadi seseorang yang mengerti apa yang benar untuk dilakukan, dan
apa yang salah untuk tidak dilakukan. Tapi ketakutan untuk tidak bisa menjadi
satu hal yang sempurna, justru akan menjadi sebuah bayangan yang akan
menghantui hingga membuat sebuah kegagalan.
Dan
kembali ke harapanku. Aku ingin dijauhkan dari ketakutan itu.

Usiaku juga pastinya
bertambah. Apakah kedewasaan juga akan bertambah?. Pastinya aku tidak bisa
menilai sepenuhnya. Karena aku bukanlah seorang penilai yang baik. Tapi aku
hanya bisa merasa kalau aku tak pernah bisa merasa dewasa. Jika aku selalu di
manja. Manja oleh diriku sendiri.  Maka
aku tak akan pernah dewasa. Dan aku pun ingin juga dijauhkan dari kemanjaan
itu.

Akhirnya…semuanya akan
kembali pada diriku sendiri. Untuk angka 2008. Semuanya tau, itu adalah sebuah
angka yang besar. Untuk bertambah besarnya usia ku juga. Meskipun aku selalu
merasa bertambah besarnya usiaku selalu berbanding terbalik dengan kebesaran
jiwaku. Aku masih mengharapkan untuk bisa berbanding lurus. Dan itu hanya bisa
aku yakini. Untuk sebuah harapan itu.

…harapan 2008.

 

 

Jay




0 Responses to “…harapan 2008”


  1. No Comments

Leave a Reply