Archive for January, 2008

29
Jan

hanya berbagi…

Wah…sudah akhir Januari.
Waktu benar2 cepat berlalu. Masih tetap berkutat pada rutinitas yang ada. Hanya
ada tambahan untuk lebih memikirkan kesehatan dengan berolah raga. Jadilah ada
beberapa jam waktu khusus yang aku bagi untuk hal yang satu itu. Untuk tubuh
agar berasa lebih fit ajah. Selebihnya tidur dan makan dan nonton serial2 TV.
Hehe.

Masih bingung dan masih
belum dapat kepastian untuk bisa cuti dan libur di bulan April nanti. Masih
males ngurus perizinannya. Masih malas ke HRD juga. Kangen Medan juga. Pengen
balik kesana paling tidak dua atau tiga hari saja. Kangen dengan suasana kamar
di rumah 98. Kangen rumah di Tamora. Kangen semua2nya. Tapi kalau aku kangen2an
terus yang ada aku malah jadi kepikiran. Makanya terus2an di pending. Hehe. Biar serius ke kerjaan
juga. Serius cari duit. Hehe.

Kemarin sempat insomnia lagi. Susah banget tidur. Dan
tetap harus bangun pagi. Ada ajah yang difikirkan. Untuk beberapa hari ini
sudah mulai normal kembali.
Mungkin kemarin karena aku
merasa nervous aja dengan masalah2
hidup. Yah, mudah2an gag terjadi lagi. Itu jugalah alasanku untuk membagi
waktuku untuk bisa sejenak berolah raga. Agar aku bisa tidur lebih tenang.

Dan yang terakhir, saat
ini juga lagi gag mau mikirin yang berat2. Lagi benar2 ingin menikmati apa yang
ada.
vie heureuse …:-)

 

 

Jay

 

PS : :-( Turut
berduka cita atas meninggalnya H.M. Soeharto –mantan Presiden RI-, semoga amal2
Ibadahnya diterima disisi Allah SWT. Amieenn. Prosesi pemakaman dan rumah
dukanya selalu jadi tontonan yang menarik.
:-)

17
Jan

…harapan 2008

Lama juga tidak menulis. Setelah liburan di akhir
tahun kemarin. Hampir tak tau apa yang ingin di tulis dan dibagi. Semuanya
begitu indah. Hingga tak mampu tertuliskan dalam sebuah alinea, kalimat, bahkan
sebuah kata.

Dan tibalah kembali di awal
tahun. Sungguh waktu yang singkat untuk mengakhiri tahun kemarin. Tapi aku
bersyukur, karena semuanya di akhiri dengan kebahagiaan. Kalaupun ada sesuatu
yang masih terfikirkan olehku, mungkin adalah bertambah usia dan merasa masih
banyak yang harus aku kerjakan untuk diriku sendiri, keluarga dan semua orang
yang aku sayangi.

Semuanya tau, sifat
dasar manusia adalah tak pernah mengenal rasa puas. Karena itu jugalah yang
memacu semangat manusia untuk mendapatkan dan meraih segala keinginan yang telah
difikirkan ; Harapan.

Banyak yang aku
diskusikan dengan sahabatku –Uzer- kemarin. Tentang esensi hidup. Tentang
memaknai diri dan segala harapan-harapan seorang manusia –bernama Harry
Sanjaya- ini. Ketakutan adalah satu hal yang besar untuk selalu membayang-bayangi
setiap harapan ini. Uzer berkata, dia telah melewati fase itu. Dan ia berkata
hal itu tidak akan pernah hilang. Apa yang kami diskusikan hanyalah sebuah
pengalaman hidup. Dia hanya membagi apa yang pernah di alaminya. Dan aku
menjadi seorang pendengar yang baik. Dia bukan seorang yang sempurna. Dia hanya
menjadi seorang penutur untuk kisah hidupnya. Dan aku jadikan sebuah pelajaran
hidup untuk sebuah hal yang baik.

Di tahun kemarin, aku
masih merasa belum ber-Iman sepenuhnya. Iman dalam arti yang sesungguhnya. Iman
berarti percaya. Untuk satu hal yang ku anggap masih jauh, adalah Imanku pada diriku
sendiri. Untuk mencintai dan percaya pada diriku sendiri, aku masih sangat jauh
dari sempurna. Sangat tidak ber-Iman. Untuk hablumminALLAH,
hanya aku dan DIA yang tau. Dan hanya ingin ku bagi dengan DIA sepenuhnya.
Dalam doa dan sujud itu.

Adalah sebuah harapan
ini. Bisa menjadi seseorang yang mengerti apa yang benar untuk dilakukan, dan
apa yang salah untuk tidak dilakukan. Tapi ketakutan untuk tidak bisa menjadi
satu hal yang sempurna, justru akan menjadi sebuah bayangan yang akan
menghantui hingga membuat sebuah kegagalan.
Dan
kembali ke harapanku. Aku ingin dijauhkan dari ketakutan itu.

Usiaku juga pastinya
bertambah. Apakah kedewasaan juga akan bertambah?. Pastinya aku tidak bisa
menilai sepenuhnya. Karena aku bukanlah seorang penilai yang baik. Tapi aku
hanya bisa merasa kalau aku tak pernah bisa merasa dewasa. Jika aku selalu di
manja. Manja oleh diriku sendiri.  Maka
aku tak akan pernah dewasa. Dan aku pun ingin juga dijauhkan dari kemanjaan
itu.

Akhirnya…semuanya akan
kembali pada diriku sendiri. Untuk angka 2008. Semuanya tau, itu adalah sebuah
angka yang besar. Untuk bertambah besarnya usia ku juga. Meskipun aku selalu
merasa bertambah besarnya usiaku selalu berbanding terbalik dengan kebesaran
jiwaku. Aku masih mengharapkan untuk bisa berbanding lurus. Dan itu hanya bisa
aku yakini. Untuk sebuah harapan itu.

…harapan 2008.

 

 

Jay