Archive for April, 2007

18
Apr

Ini pun akan berlalu…

……….[meminjam judul dan sepenggal kisah dari salah satu Islamic Chicken Soup for the Soul, A Book of Wisdom, Tasirun Sulaiman]……….

Yah…libur minggu ini aku habiskan dengan membaca. Beberapa buku yang aku beli pas diskon harga-harga buku di Gramedia Sun Plaza kemarin pun tertuntaskan sudah untuk di baca.
Dari semua yang dibaca. Ada satu kisah yang pastinya akan selalu aku ingat. Kisah itu aku baca berulang-ulang. Kisah yang ringan tapi nyata. Dan cukup menjadikan semangat baru untuk setiap detik kejadian yang akan berlangsung dalam hidupku.

Mungkin aku ceritakan secuil kisahnya.
Tentang seorang sufi yang melakukan pengembaraan panjang. Keluar masuk desa, dan sampai di satu desa. Bertemu seorang yang kaya dan amat tidak sombong. Sang sufi mendapatkan perjamuan istimewa. Dan kemudian akhirnya harus berpisah dan melanjutkan pengembaraan. Ketika berpisah, sang sufi mengucapkan terima kasih dan si orang kaya hanya mengucapkan; Ini akan berlalu.
Sampai suatu saat sang sufi lewat lagi di desa itu. Dan orang kaya itu jatuh miskin, hartanya habis karena bencana alam, dan dia hanya menumpang pada seorang saudagar kaya. Sang sufi kembali menumpang menginap dan ia masih dijamu dengan keadaan yang sama. Ketika akan berspisah, sang sufi memberikan semangat dan memeluk si mantan orang kaya, dan langsung di jawab dengan optimisme oleh si orang kaya dengan ucapan ; Pasti Ini akan berlalu.

Kisah ini belum selesai. Sampai suatu saat sang sufi kembali melewati desa itu dan ia mendapati sang mantan orang kaya itu telah menjadi saudagar kaya. Ia mendapat warisan dari tuannya dahulu, karena tuannya itu meninggal sebatang kara. Dan sang sufi pun tetap mampir ke rumah yang sudah ia anggap sahabatnya. Ketika perpisahan harus terjadi, sahabatnya itu pun tetap ikhlas mengucapkan ; Semua ini akan berlalu.

Sampai suatu ketika sang sufi kembali harus melewati desa itu lagi dalam pengembaraannya, dan sekarang ia mendapati makam sahabatnya yang bertuliskan; Ini akan berlalu. Kisah selanjutnya, desa itu terkena bencana banjir besar dan makam itu sama sekali tidak meninggalkan bekas. Sang sufi kehilangan jejak sahabatnya.

Setelah keadaan itu berlangsung lama, sang sufi tiba pada satu kerajaan dimana rajanya selalu dalam kesedihan. Berbagai pesta rakyat telah di laksanakan namun Raja tak pernah bisa tersenyum. Sampai suatu hari ia menerima satu hadiah dari sang sufi. Sebuah cincin emas yang bertuliskan; Ini pun akan berlalu. Sontak tiba-tiba senyum Raja yang sudah lama hilang akhirnya muncul kembali.
Tidak perlu ada kesedihan, ucap sang Raja dalam hatinya, sambil memasukkan cincin itu ke jarinya.

Kembali aku merenung setelah menuliskan kembali kisah ini. Setiap detik dalam hidupku pasti akan ada semua kejadian yang aku juga tak pernah bisa memprediksinya. Aku cuma bisa melewati, merelakan dan mengIkhlaskan. Aku sakit, Aku diberi bahagia. Aku diberikan nikmat dan dosa. Tapi hanya bisa aku terima. Aku syukuri. Dan mencoba berubah dari setiap atau segala sesuatu yang bisa membuat buruk adanya.

Ini pun akan berlalu.
Tidak perlu ada kesedihan.


Jay

14
Apr

| Kamar Penyiksaan |

Jumat kemarin libur. Sempat ke kantor karena harus refreshment ‘Halo eksekutif’. Sebenernya malas banget. Tapi yah, karena gag tau mau kemana lagi. Yah akhirnya aku pun refreshment. Karena Raka pun sedang pergi mengunjungi kekasihnya di kota yang nun jauh di sana. Dan dokter gigi yang pastinya hari ini di prakteknya. Akhirnya pun di betah2in ke kantor lagi. Sampe jam 6 sore.
Setelah mutusin tuk keluar dari kantor. Jadi bingung mau kemana. Memutuskan untuk pulang. Tapi tepat di depan jalan masuk ke Jalan Selamat. Kayaknya motornya gag mau berhenti. Jadinya keterusan ajah. Sebenernya emang niat di lewatin sih. Karena berubah fikiran tuk main ke prakteknya si Dokter Gigi. Nyampe di situ. Si Dedi lagi baca-baca buku di kamar prakteknya sambil nunggu pasien. Dan karena ngeliat dia nyantai. Jadinya tiba2 kok punya niat spontan tuk cabut gigi, yang memang udah sering sakit. Gigi yang sudah sangat lama berlubang ini. Dan emang dari dulu takut kali untuk di cabut. Akhirnya kata2 spontan itu pun terucapkan, "Ded, aku cabut gigi lah..". Kya..Jadi sial banget ngucapinnya.
Akhirnya prosesi yang menakutkan itu pun berlangsung. Di mulai dari Anastesi. dirikuh di suntik dan terbius. Karena biusnya lokal. Yah tentu saja setiap apa yang dikerjakan si Dedi dengan gigiku masih bisa aku imajinasikan. Walaupun aku ngak ngeliat langsung. Yang aku bayangkan pasti gusiku di sobek-sobek. Dan bersamaan dengan itu darahku banyak keluar seiring dengan anjurannya untuk berkumur. Empat puluh lima menit itu terasa seperti bertahun-tahun. Tak kunjung selesai. Dan akar gigiku yang menurut Dedi emang bandel. Sulit kali untuk di cabut. Sampai aku harus di anastesi lagi. Hiks.
Dan…Kamar itu pun menjadi saksi. Saksi kejadian berdarah di malam itu.
Doh…padahal besoknya dirikuh ada test lanjutan di salah satu instansi pemerintahan. Ampuun dah. Akhirnya malam itu aku tertidur di rumah. Gag kemana2 lagi.
Mudah2an ini kali terakhir aku ke kamar praktek itu. Gag mau cabut gigi lagi.
Memang benar. Kamar praktek Dokter gigi itu menakutkan.
Kamar penyiksaan….

Jay

10
Apr

Cover bothside,,,

Keberimbangan
dalam pemberitaan. Mungkin itulah yang bisa diartikan untuk sebuah kalimat cover bothside. Aplikasinya tak hanya
harus dalam setiap pemberitaan melalui media massa.
Dan aku fikir aku memerlukannya
sekarang. Di saat menerima satu berita negatif yang aku dengar dari orang lain
tentang diriku. Di saat sebenarnya aku berusaha untuk bersikap skeptis untuk setiap berita-berita miring
itu. Tapi sebenarnya miris.

Kadang
aku merasa mereka semua tidak adil. Mereka tidak pernah tau semuanya. Mereka
hanya mengetahui sebagian dan selalu menjadi yang lebih tau. Berusaha
memaksimalkan pengetahuan mereka yang sedikit untuk mendapatkan simpatik atau
mungkin banyak dukungan untuk setiap langkah yang mereka ambil.

Mungkin
hanya berharap, mereka bisa mengerti makna cover
bothside
; atau setidaknya pernah mengetahui bahwa setiap berita yang ada
harus ada perimbangannya. Atau mungkin aku dan dia harus duduk dalam satu meja.
Menjelaskan. Agar setiap berita itu tidak simpang siur. Agar mereka bisa duduk
mendengarkan. Dan mereka tidak selalu bermain dengan mindset mereka sendiri untuk bisa memahami sifat atau bahkan mencari-cari
keburukan orang lain.

 

Tapi
untuk berada dalam satu meja itu tidaklah mungkin. Aku bukan selebiriti. Dia
juga bukan politisi. Dan mereka bukan pers. Tapi mereka sepertinya ingin
menjadi pers. Atau mereka memang cuma banci?
Yang bisa bercerita di sana-sini. Tak perlu banyak bukti. Tapi hanya punya pepesan
kosong yang tak pernah berisi.

Aku
maafkan. Karena aku tak peduli. Bukan dari kalian aku hidup. Tapi dari setiap
masalah yang kalian berikan aku bangkit. Terima kasih.

Untuk kamu ;
Percayalah bahwa jika kita
yakin untuk apa yang kita perbuat. Kita tak perlu mendengarkan setiap bibir
negatif orang lain. Karena mereka tak pernah tau. Hanya kita yang tau. Bahwa
itu memang tidak benar.

Untuk kalian ;
Mungkin yang kalian dengarkan hanya dari
seseorang dan kalian mencoba meyakini. Tapi sebenarnya kalian tidak tau. Aku
maafkan. Jika itu menjadi sebuah fitnah. Tak ada dendam. Dan kami tak perlu
duduk bersama. Menjelaskan.


Jay

09
Apr

Open my heart???

Aku
masih bingung dengan setiap detik nafas yang harus ku tarik dan yang pasti akan
kuhembuskan. Masih bingung dengan kondisi tubuh yang juga masih jauh dari
kondisi normal. Sejak sakit yang aku ketahui hampir setahun yang lalu. Aku
masih tetap harus bersedia meluangkan waktu sejenak sesudah makan untuk bisa
menelan obat ini. Aku ingin ini dihentikan. Dan aku pasti bisa. Aku akan
sembuh. Total.


Minggu
pertama April. Aku masih merasa nyaman sendiri. Dan ini jauh lebih baik. Aku
masih bisa berkonsentrasi dengan pekerjaan tanpa harus dibebani rasa yang aku
nilai akan mengganggu. Walaupun tak pernah bisa di tampik. Aku hanya merasa
belum bisa memiliki orang yang tepat. Belum bisa memberikan yang terbaik untuk
orang lain. Karena aku juga belum bisa memberikan hal tersebut pada diriku
sendiri.

Masih
ingat kata-kata dia yang sudah tak berada di sini, di kota ini dan telah menikah ;
“Kedewasaan
seseorang bukan Cuma bisa di lihat dari segala sifat dan sikapnya, tapi juga
cara dia berfikir dan bisa menyelesaikan segala masalahnya tanpa memberikan
masalah baru pada orang lain”, ujarnya.
Kau
masih tetap yang terbaik untukku. Meskipun kau tlah berada jauh di sana. Terima kasih untuk Pizza terakhir.

Untuk
hal yang lain. Kemarin sempat liburan dengan teman2 kantor. Momo cs. Jalan ke
tuk-tuk Danau toba dan nginap disana. 
Capek. Tapi menyenangkan. Dan itu tempat yang indah. Terima kasih untuk Mr.
Desra untuk informasi penginapannya. Sudah lama tak bersua. Cuma by phone. Yah karena kita semua memang
sudah jauh. Maafkan aku. Dan mohonkan maaf untuk yang lainnya

 

Seminggu
ini. Aku juga bingung. Untuk rasa ini. Dan untuk hati ini.

Terima
kasih untuk sms-smsnya.

Terima
kasih untuk telfonnya.

Waktu
kita masih panjang.

Kita sama-sama tau kan?

Open my heart??? I didn’t
know..

Karena sebenarnya aku pasti
memikirkannya…

Sejak pertemuan kita
pertama…

 

Jay