Sekarang pukul 2 dini hari. Selasa.
Tentang satu hari sebelum hari ini.
Ini tentang kekosonganku.
Seperti tak ada tempat berpijak dan tak ada tempat berlindung.
Hampa. Kosong.
Fikiranku memang tak pernah akan sejalan dengan fikirannya. Meskipun bersamanya aku tumbuh. Dan bersamanya aku menjadi sekarang ini. Dengan segala ke-egoisannya. Dengan segala sifat mutlak nya. Dan dengan ke-diktatorannya. Tapi darahku adalah darahnya.
Setiap komunikasi yang aku buat dengannya tak akan pernah bisa berujung pada sebuah simpul. Selalu teracak dan terbelit. Aku sungguh tak pernah mengerti. Meskipun fikirku akan selalu ingin mengerti. Tapi dagingku adalah dagingnya.
Aku bisa seperti sekarang ini karena dia. Dan itu tak pernah ku tampik. Tapi sungguh aku tak ingin punya sifat seperti dia. Tak ingin sifatnya menjadi sifatku.
Aku sayang dia untuk segala yang ia beri untukku. Tapi aku tak pernah sayang dengan sifatnya. Dengan keras hatinya. Dan dengan fikiran2nya.
Kita sedarah. Kita sedaging. Karena akulah darahmu. Dan akulah dagingmu.
Tapi kita selalu di persimpangan ini. Berharap lampu merah itu berada pada waktu yang sama. Dan kita bisa berhenti berdampingan. Tapi ini kenyataannya. Aku ataupun kau selalu ingin menerobos lampu itu. Dengan kerasnya fikir kita.
Maafkan aku. Kau ku maafkan. Dan kau tak berhak meminta maaf. Karena itu menjadi hakku. Kau hanya punya hak memaafkan.
Dengan segala kerasnya hati dan fikirmu…
Aku cuma ingin doa mu…
Aku cuma ingin restu mu…
sekali lagi ; maafkan aku.
Papa…
Jay
0 Responses to “Kosong…”
Leave a Reply