Archive for March 12th, 2007

12
Mar

Sahabat apakah??

Ini bagian cerita yang lain.
Tentang kalian yang selalu bisa membuat aku tersenyum.
Tentang kebahagiaan kalian yang slalu ingin kalian bagi.
Untuk mengisi ‘kosong’ itu.
Terima kasih.

Kamu dan kamu adalah orang itu. Kalian berdua selalu bisa buat aku tersenyum. Aku cuma tak ingin salah lagi. Kalian ada bukan untuk menjatuhkan. Kalian ada untuk ketegaran ini. Kita bertiga tau, kita tlah pernah salah.

Tapi sekarang kita disini. Di garis kebahagiaan ini. Satu dari kita. Kau. Telah menemukan orang baru. Pemberi perhatian. Kau bahagia. Dia bahagia. Dan aku bahagia. Kita sahabat yang bahagia.

Kita tau. Kita pernah salah bertumpu. Hingga orang yang kita yakini berpaling. Menusuk dari belakang. Tapi tertawa manis di depan kita. Sahabat apakah??

Aku yakin dengan persahabatan ini.
Kita. Kau, aku dan dia. Kau yang bahagia. Dari kampung halamannya. Membawa senyum. Hingga ke tengah kita. Kami bahagia. Untukmu. Sahabat.
Tapi kalian tau. Aku masih nyaman dengan ini. Dan hanya kalian yang mengerti mengapa aku begini. Bukan seperti mereka. Mereka yang dulu. Yang juga bersama kita. Cuma ingin bahagia. Tapi menusuk dan memfitnah. Tersenyum di depan kita. Tapi hatinya tak ingin. Kita pun melupakan. Maafkan.

Terima kasih masih bisa membuat aku tersenyum.
Pagi ini. Di depan komputer ini. Di kantor ini.

…………………………………………….|untuk sang Raka dan sang Dokter gigi|

Jay

12
Mar

Kosong…

Sekarang pukul 2 dini hari. Selasa.

Tentang satu hari sebelum hari ini.
Ini tentang kekosonganku.
Seperti tak ada tempat berpijak dan tak ada tempat berlindung.
Hampa. Kosong.

Fikiranku memang tak pernah akan sejalan dengan fikirannya. Meskipun bersamanya aku tumbuh. Dan bersamanya aku menjadi sekarang ini. Dengan segala ke-egoisannya. Dengan segala sifat mutlak nya. Dan dengan ke-diktatorannya. Tapi darahku adalah darahnya.

Setiap komunikasi yang aku buat dengannya tak akan pernah bisa berujung pada sebuah simpul. Selalu teracak dan terbelit. Aku sungguh tak pernah mengerti. Meskipun fikirku akan selalu ingin mengerti. Tapi dagingku adalah dagingnya.

Aku bisa seperti sekarang ini karena dia. Dan itu tak pernah ku tampik. Tapi sungguh aku tak ingin punya sifat seperti dia. Tak ingin sifatnya menjadi sifatku.
Aku sayang dia untuk segala yang ia beri untukku. Tapi aku tak pernah sayang dengan sifatnya. Dengan keras hatinya. Dan dengan fikiran2nya.

Kita sedarah. Kita sedaging. Karena akulah darahmu. Dan akulah dagingmu.
Tapi kita selalu di persimpangan ini. Berharap lampu merah itu berada pada waktu yang sama. Dan kita bisa berhenti berdampingan. Tapi ini kenyataannya. Aku ataupun kau selalu ingin menerobos lampu itu. Dengan kerasnya fikir kita.

Maafkan aku. Kau ku maafkan. Dan kau tak berhak meminta maaf. Karena itu menjadi hakku. Kau hanya punya hak memaafkan.

Dengan segala kerasnya hati dan fikirmu…
Aku cuma ingin doa mu…
Aku cuma ingin restu mu…

sekali lagi ; maafkan aku.
Papa…

Jay