Archive for December, 2006

29
Dec

Untuk Keikhlasan dan Kesedihan ini…

Ini hari yang melelahkan dan menyedihkan. Sejak tadi malam di kantor aku udah mulai ngerasa kalo’ akan ada kejadian yang gag menyenangkan besok pagi. Karena aku masuk shift 8 dan akan pulang pagi. Jadi aku tetap bertahan tuk kerja dengan perasaan yang sungguh gag enak itu. Jam 2 pagi my sista nelfon. Aku disuruh balik ke rumah nenek pulang kerja besok paginya. Karena semua keluarga udah pada kumpul. My luvly aunt, buklek Sumi yang masih belum bisa melewati masa kritisnya akan di bawa pulang pagi jam 9 dengan carteran pesawat dari perusahaan suaminya PT. Lonsum.

28 Desember 2006 ;

Jadilah aku pulang pagi ini ke rumah Selamat 98. Rumah nenek. Komunitas yang selalu membuatku merasa nyaman dan selalu tersenyum. Aku tiba di sana jam 7 pagi lewat 20 menit. Dan disana semuanya memang sudah berkumpul. Karena mataku juga sudah cukup mengantuk. Aku masuk kamar sebentar dan tidur. Jam setengah 9 pagi Ibuku pun ke kamar dan membangunkanku tuk menjemput ke bandara. Nyampe di bandara kita tidak harus menunggu, karena mobil Ambulans sudah langsung menjemput dari pesawat dan kita pun balik arah tuk kembali ke rumah.

Nyampe di rumah nenek. Buklek Sumi di turunkan dari mobil dan langsung di bawa ke kamar. Dengan alat kedokteran yang semuanya masih terpasang di badannya. Sedih. Haru. Semua rasa itu jadi satu. Dan semakin membuat air mata menjadi kelu. Kita semua menangis. Kita ngak pernah tau dia sadar atau tidak. Matanya terpejam tapi kami masih yakin hatinya tetap terbangun. Dia berada pada satu kondisi dimana ia harus memilih. Menemani kami di sana dan harus kembali kepada-Nya. Tapi apapun keputusannya adalah memang kehendak-Nya. Dia sendiri pun gag akan bisa menolak.

Hal terindah yang bisa kami lakukan adalah terus berdoa. Bertahlil dan bertasbih. Membisikkan asma4JJ1 ke telinganya. Masih berharap matanya bisa terbuka dan menyapa kami. Hanya itu.

Kami semua. Komunitas 98 ini. Masih berada di sampingnya. Masih berdoa untuknya. Bersama kedua orang anaknya yang masih kecil ini. Rara (7) dan Fikri (4). Setiap melihat mereka hati ini selalu tergores. Sedih. Teriris. Ini kehendak-Nya. Kami masih terus bertahlil. Setelah bisikan dan ciuman terakhir dari anaknya. Mesin Scanning itu berbunyi. Lampu kuningnya terus menyala. Hati kami makin teriris. Mata ini gag mampu bertahan menutup aliran air mata yang selalu bercucuran. Hingga mesin scanning itu berhenti. Tampak segaris. Dan Lampunya berwarna merah. Dia tlah pergi. Bersama seluruh air mata dan doa ini. Ini kehendak-Nya. Kami ikhlas. Dan kami sungguh-sungguh Ikhlas. Bersama kepergiannya yang selalu kami ingat.

My luvly aunt, Buklek Sumi. Doa kami akan selalu menyertai langkahmu. Keikhlasan kami akan mengatarkanmu dalam kedamaian dan keindahan bersama-Nya. Kenangan-kenangan akanmu akan tetap tersimpan dalam hati semua insane Komunitas ini. Kami akan teruskan masa depan ini. Bersama cita-citamu. Bersama kebanggaanmu. Kedua anakmu. Insya4JJ1 kami selalu berdoa agar dirimu diterima di sisi 4JJ1 yang Maha Kuasa. Kau orang terbaik. Dan kami sungguh-sungguh kehilangan.

Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun……

Satu cahaya indah tlah pergi dalam Komunitas 98 ini.

Kami ikhlas ya 4JJ1…..

Jay