Kau memang begitu indah.
Kau memang sulit, tapi mampu ku gapai.
Tapi keindahanmu gag akan pernah bisa abadi.
Terima kasih kau mampu berada disampingku di saat aku membutuhkan kemarin.
Apa yang Tuhan tunjukkan untuk kejadian kemarin adalah jalan yang memang telah seharusnya ada. Agar aku tersadar. Agar aku bangkit. Untuk segala kebodohanku dalam rentang waktu yang singkat kemarin. Untuk sebuah harapan dan kepalsuan.
Untuk kebohongan itu ;
Aku tlah ikhlas. Untuk semua kebohongan yang ada. Aku sangat menyayangimu. Hingga tak mampu membedakan antara kebodohan dan kenyataan. Aku memaafkanmu. Tapi aku membencimu. Untuk semua kebohongan itu.
Aku tlah ikhlas. Untuk segala permohonan maafmu. Untuk keinginanmu agar hubungan ini tetap bertahan. Tapi aku tak bisa. Aku sangat menyayangimu. Tapi aku membencimu. Untuk segala sifat burukmu.
Terima kasih untuk enam hari terakhir kebersamaan kita. Itulah moment terindah dalam perjalanan singkat yang tlah kita jalani dalam segala kepalsuan ini.
Aku tlah cukup kuat. Aku tlah cukup bijak. Untuk dua kesalahan yang sama.
Aku cuma meyakini ini adalah proses pendewasaan cara berfikirmu dalam hidup. Dan akulah eksperimennya.
Terima kasih. Terima kasih untuk semuanya.
It’s Over…..[enough!!!].
Untuk kejadian kemarin ;
Aku bahagia. Aku masih memiliki sahabat-sahabat terbaik yang selalu dapat membuatku selalu tersenyum. Tidak hanya saling berbagi untuk kebahagiaan dan kesenangan. Tapi juga untuk kesedihan ini.
Terima kasih untuk kalian sahabat ;
Dedie, Dodi, Mr.Ados, Raka, dan Roma.
Kalian sahabat terbaik <tapi gag usah nyanyi ‘Cinta Putih’nya Kerispatih lagi ya…!hehehe>.
Untuk kejayaan ini ;
dan untuk kesedihan ini…
Jay