Libur kerja semalam membuatku sedikit lebih merasa nyaman. Yah, setidaknya bisa mengusir kepenatan yang telah menumpuk selama lima hari lalu. Tapi tetap juga ngak bisa kemana-mana. Liburnya juga hanya satu hari, mau kemana???. Untungnya hari ini aku kebagian kerja di malam hari. Jadi masih bisa menikmati waktu yag lebih panjang tanpa call master dan head set, hihi. Sebetulnya ngak ada masalah juga sih dengan kedua benda tersebut. Justru aku sekarang merasa jauh lebih terbiasa dengan mereka. Anehnya malah ngak enak juga kalo ngak bercengkrama dengan mereka satu hari saja (fiuuuhhh….maksudnyeee?????).
Dan aku pun juga ingin berterima kasih dengan seorang yang ada nun jauh disana (dimana yak???). Karena telah dengan senang hati membalas SMS serta mau membunuh sepi di malam hari dengan telfonnya -yang secara tak langsung telah membuatnya bankrut, hihi- dan membuat aku justru menikmati insomnia ku. Aku senang. Dapat berbagi cerita dan tertawa bersama hingga mengantuk (baca: habis pulsa,hihi).
Mulai pagi ini (11/08), di rumah sudah berasa sangat rame. Padahal hari biasa juga memang sudah rame. Saudara-saudara sudah pada datang. Paling ngak sedikit membantu meramai-ramaikan untuk acara yang nota bene baru akan berlangsung pada hari minggu (14/08) nanti. Dan, memang sudah menjadi kebiasaan di keluarga kami untuk saling membagi suka cita dengan keramaian *atau ini juga sudah kebiasaan seluruh manusia?. Tapi jujur saja, aku tak terlalu suka dengan keramaian. Bahkan jika di rumah terlalu ramai, aku lebih merasa nyaman untuk segera pergi dari sana agar jumlah mereka berkurang satu. Meskipun sebenarnya mereka juga sama sekali tak merasakan adanya perubahan. Karena jika aku tetap berada di sana aku juga tak terlalu vocal untuk lebih membuat keributan, karena aku lebih menyukai ‘diam’.
Aku bukan orang yang terlalu banyak bicara dan selalu dapat membuat suasana menjadi lebih ramai. Aku adalah orang yang lebih memilih diam jika aku benar-benar tidak tahu. Sama seperti ketika aku baru saja bertemu dan berkenalan dengan orang baru. Maka aku lebih memilih untuk diam dan memahami sifat yang ada padanya sambil bertanya-tanya dalam hati apakah ada daya magnetis yang cukup kuat yang dapat mempersatukan kami menjadi ‘teman’.
Di saat yang lalu, aku juga sedikit bingung. Kenapa aku memilih jurusan Ilmu komunikasi di Universitas, yang nota bene juga sangat tidak sesuai dengan bakatku. Tapi bukankah manusia di tuntut untuk selalu belajar? Agar ia lebih mengetahui dari apa yang tidak ia ketahui? *Sama seperti Muhammad SAW tak pandai membaca ketika ia di paksa Jibril untuk membaca. Aku memilih jurusan tersebut dan meletakkannya tepat dipilihan ke dua di bawah Kedokteran sewaktu UMPTN. Padahal justru aku lebih menyenangi eksakta. Mungkin karena aku sedikit bodoh, menilai komunikasi tak jauh berbeda dengan telekomunikasi. Tapi aku senang ; senang menjadi ‘bodoh’.
Ketika aku mulai belajar berkomunikasi -tak hanya dengan diri sendiri, SWT 4JJ1, dan juga dengan orang lain- aku pun mulai merasa seperti menolak takdir, sifat dan sikapku yang sudah ada semenjak lahir. Tapi inilah kenyataan. Ketika aku di ajak untuk belajar menginjakkan kaki pertama dan berjalan, padahal aku tak ingin berjalan. Ketika aku di ajak untuk mulai berbicara, padahal aku lebih senang untuk diam. Dan, ketika aku mulai di ajak untuk belajar menulis, tak hanya belajar menulis sebuah huruf pertama tapi sebuah paragraf hingga sebuah jurnal ; Ini sebuah penyegaran.
Jay
0 Responses to “Refresh”
Leave a Reply