Archive for August, 2005

26
Aug

Elok…

Aku…membayangkan surga ada di depanku
di depan mataku…
Saat aku menikmati teduhnyawajahmu
indah hatimu
Tak jemu-jemu ku pandang
Begitu elok kau tercipta

Tak pernah henti-hentinya aku
Terus mencintai dirimu
Tak pernah henti-hentinya aku
Tetap menyayangi dirimu
Seperti adanya diriku
Seperti adanya aku ini
Seperti adanya diriku
Seperti adanya…

Aku ingin melupakan hasrat
tukmelangkah sejenak pergi
Inginku sempurnakan hidupku
di sampingmu memeluk jiwamu
Tak jemu-jemu ku pandang
Begitu elok kau tercipta…..
                                                 ~Padi~

*Terima kasih kembali untuk NSP ini.
*Untuk kau yang telah memberikannya kepadaku. Dan membuatku selalu merasa bahwa kau selalu bisa kugapai. Walaupun sebenarnya kau jauh. Karena kaulah imajinasiku. Dan kau lah semangatku…<sebenarnya bukan proyek ‘gombal’ ya..!!! tapi ini kenyataan.hihi>. I’ll promise..!!

Jay

26
Aug

Candu…

*Situasi saat ini pukul 00.20 (27/08). Masih di kantor. Padahal seharusnya aku sudah hampir tiba di rumah. Ya..karena malas pulang aja. Jadinya akses internet di kantor. Disini; di cluster yang memang sudah kayak warnet. Hihi.
Hari ini jadi semakin terasa berat saja. Pinginnya dapat liburnya cepat biar bisa refresh otak. Tapi baru dapat libur hari Minggu (28/08) nanti. Padahal seharusnya aku malah bersyukur yak. Bisa dapat libur di hari Minggu. Jarang-jarang niy. Dan memang ini kali pertama selama bulan Agustus ini aku dapat libur di hari Minggu *Harus benar2 di manfaatkan!!!!! Dan…dari sekarang pun aku mulai menyusun rencana *padahal biasa2nya walau udah direncanain tetap aja ngak jadi juga. hihi…
Tapi, disaat masih memikirkan kalau hari ini, sabtu (27/08), aku masih harus bekerja lagi. Semangatku malah jadi hilang. Huh..!!! Memang sangat melelahkan. Tapi aku harus bertahan. *Doakan saya. Kan tinggal satu hari lagi.

Dan aku pun masih menunggu. Saat itu tiba. Saat yang memang sudah kita nantikan. Untuk membahas segalanya. Apa yang kau fikirkan. Apa yang aku fikirkan. Dan banyak hal yang memang pasti kita nantikan untuk terjadi. Atau mungkin hanya aku ; dan kau tidak??.
Tapi segala keyakinanku telah tumbuh dan semakin berkembang. Merasuki diriku dan membuatku candu. Untuk bisa merasakan sebagian dirimu. Tanpa harus berimajinasi.

Jay

22
Aug

Komitmen…

Senin 22 Agustus 2005. Pukul 16.00 WIB.
Libur niy. Niatan pertama siy tadi pengen nonton karena udah merasa sangat kecewa dengan hasil ujian di kantor tadi. Hiks. Tapi mungkin ntar agak sorean aja. Padahal ini udah sore. Jadinya ke Yellow net dulu, sekalian mo liat blog ku yang semalam masih ‘aneh’.
Tadi sempat agak2 termenung, bingung dan ling lung. Hehe. Fikiran pun kembali menerawang dan mengkilas balik tentang apa yang terjadi semalam siang. Eng..ing..eng….
Iya..semalam sempat chat by messenger cukup lama dengan seseorang yang ada di sana. Saling berargumen tentang makna sebuah komitmen. Sempat berfikir sendiri, apakah ini keputusan yang benar. Karena ku yakin ini memang tak kan pernah dapat di benarkan? Huh..
Tapi ini soal rasa. Tentang sesuatu yang muncul langsung dari hati meskipun ingin di tolak. Dan ini memang harus terjadi. Ini soalan rasa; bukan nafsu.

~Tentang Komitmen~
Sejak awal manusia dilahirkan dan diberi nyawa oleh 4JJ1, ada siklus yang hidup yang tak mungkin ditentang. Setiap orang lahir kemudian tumbuh menjadi besar dan sesuai dengan prosedur yang ada maka ia akan belajar, sekolah dan menyelesaikan studinya. Kemudian ia mulai memikirkan untuk mencari uang dengan bekerja dan berusaha mencari nafkah kehidupan untuk sebuah kemandirian. Fikiran untuk menikah [menghindari zinah] dan untuk melampiaskan nafsu pun adalah proses yang akan dilewati. Sampai ia menciptakan sebuah nyawa kembali untuk ia berikan siklus yang sama. Dan akhirnya ia pun akan menua dengan umur yang menjelang akhir hingga akhirnya MATI ; inilah komitmen hidup.
Dalam siklus tersebut manusia juga dituntut untuk memiliki komitmen pada diri sendiri, orang lain dan yang menciptakannya.
Ini soal keberadaan, kepastian, kenyamanan, perlindungan; dan kecemburuan.
Tapi apakah manusia masih dituntut untuk tetap mempertahankan komitmen jika ia masih perlu berjuang menghadapi norma. Mungkin mereka tak mengerti. Hanya kau, aku dan DIA.
Ini Soalan kita. Soalan norma. Soalan komitmen ; dan nafsu…
*Bimbang (again!!!).

Jay

22
Aug

what happen with ma blog??

Kyaaaaa….wadooh?? smalam abis online sempat view blog again!. Tapi apa yang terjadi sodara2…??? Hmm…what happen with ma blog? napa tampilannya jadi begini siy??
Hmm…sepertinya ada yg ngak beres niy?? * sambil purak2 mikir, padahal ngak tau jalan keluar*.
Kasih info lah woyy…napa bisa kayak gini?? Aku buta kali dengan masalah ini *maklum ilmu aku ngak terlalu dalam kali soalan blog* hihi.
Hmm…Mudah2an besok bisa normal lagi…*Blog yang aneh…ckckck…

Jay

21
Aug

for information (hihi)

*Situasi saat ini ; di kantor, Pukul 18:37 WIB. Hampir maghrib.

Dan aku masih di sini. Masih di depan komputer dan call master serta dengan head set yang masih terpasang di telinga [dan sekarang baru selesai sholat]. Masih online sembari memikirkan apa yang sudah terjadi satu hari ini.
Hari ini aku shift 7. Itu berarti aku baru akan pulang pada pukul  01.00 WIB dinihari besok (22/08). Hiks.

Jay

18
Aug

VaciLLatE ; [Bimbang]

Mengapa slalu saja ada cerita…?
Tentang apa yang membuat ku begini?
Mengenai apa yang membuat kau begitu?
Untuk apa semua ini terjadi di antara kita?
Bagaimana ini bisa terjadi di antara kita?

Kita tlah pernah salah…Aku sadar dan kau pun sadar…

Tapi kita tak slalu tau…Karena selalu ada yang lebih Maha Tau…

Hari ini kita slalu membicarakan apa yang membuat kita bersama…

Besok kita mulai membicarakan karena apa kita dapat berpisah…

Karena perpisahan selalu menanti di depan pintu yang berlabel ; B E S O K…!

Aku ada karena kau pun ada…

Kita ada karena memang ada sesuatu diantara kita…

Sesuatu diantara kita ada karena ada permulaan …

Dan permulaan bukanlah untuk sebuah kata AKHIR…

Karena kita baru akan memulai ditengah berakhirnya satu hal yang lain…

Aku pernah VaciLLatE…

Dan kau pun berkata bahwa kau slalu dalam VaciLLatE…

Kita bertemu karena VaciLLatE…

Untuk sebuah pertemuan indah ditengah jutaan bayangan VaciLLatE

Kita pun bercerita tentang VaciLLatE…

Kini ku tlah kehilangan VaciLLatE-ku…

Aku tak tau apakah kau juga demikian…

VaciLLatE-ku hilang ketika aku didekatmu…

Ketika kau mulai bersuara…meskipun kau tidak berbicara…

Ku tlah bertemu dengan KeINDAHan…

KuTutup semua VaciLLatE-ku…

Untukmu…untuk menghilangkan VaciLLatE-mu…

Dan untuk kita…untuk segala yang terjadi diantara kita…

Serta apa yang membuat kita bahagia…

Karena KuTlah Yakin pada pilihanku…

KaRena KauLah ….KeDAMAI-an ku…

Untukku…Untuk VaciLLatE-ku…Untuk KeINDAHan Kita…

DaN MaSa DePaN Kita…!!!!

Jay

18
Aug

17 Agustus

Berkibarlah benderaku
Lambang suci gagah perwira
Diseluruh pantai Indonesia
Kau tetap pujaan bangsa
Siapa berani menurunkan engkau
Serentak rakyatmu membela

Sang merah putih yang perwira
Berkibarlah selama-lamanya ….

*Itulah sepenggal lagu ‘Berkibarlah Benderaku’  yang diciptakan Ibu Sud. Dan kini dapat kau dengarkan apabila kau menghubungiku. Lagu yang kau persembahkan sebagai Nada Sambung Pribadi (NSP) untukku. Yang selalu membuatku merasa telah menjadi warga negara yang baik; padahal sebenarnya tidak. Karena aku sama sekali juga tak pernah lagi mengikuti Upacara setiap 17 Agustus; meskipun aku dulu seorang Pasukan Pengibar Bendera. Bahkan sekarang. Di saat aku sudah mulai tak pernah peduli dengan masih ada atau tidaknya pengibaran bendera itu.
*Tapi terima kasih. Karena dengan NSP itu, aku jadi lebih mengingatmu. Bahkan mungkin aku tak pernah lupa. Terima kasih (again!).

15
Aug

Menyambung tulisan pagi tadi ;

Tiga hari yang melelahkan kemarin aku disibukkan dengan acara di rumah Selamat 98 yang telah berlangsung pada hari Minggu (14/08). Tepatnya semalam, pada acara wedding party aka ngunduh manten (baca; dalam bahasa jawa) sepupuku, Kibot. Aku memang tak cukup banyak membantu dan berpartisipasi dalam acara tersebut. Karena aku memang telah merasa sangat lelah selama tiga malam bekerja dengan shift 8, yang berarti malam hingga pagi hari. Dan aku pun lebih memilih tidur untuk beristirahat. Sambil bersembunyi. Walaupun ku yakin mereka memang tak pernah merasa peduli untuk mencariku.

Tapi hari-hari yang melelahkan itu juga membuatku senang. Kenapa aku bisa senang??. Aku juga tak faham. Mungkin ada yang lebih bisa memahami. Dia. Bukan aku, kalian ataupun juga yang lainnya. Karena kita sama. Tak pernah bisa menyadari apa yang membuat kita bahagia dan tertawa. Mungkin aliran dan mekanisme yang dapat membuat kita tertawa pun hampir tak pernah kita bahas. Ataukah mungkin sebenarnya kita sedih?. Tapi kita dengan sengaja membuat ‘tindakan palsu’ sebagai tameng bagi kesedihan kita; Aku masih belum ingin membahasnya.

Hari ini, Senin 15 Agustus 2005.

Hingga pukul 7.15 WIB pagi tadi aku masih di kantor. Kemudian langsung berjalan pulang karena setiap lima menit yang ku lalui selalu disertai menguap. Aku harus tidur. Setelah mengisi bahan bakar body agar bisa tidur dengan nyenyak *aku juga sedikit heran mengapa tidur perlu bahan bakar juga, padahal Indonesia sedang dibudidayakan hemat bahan bakar,hihi. Aku pun akhirnya tertidur tanpa melihat dan menyadari ketika ku terbangun ternyata telah ada 6 missed calls dan 2 new messages di layar handphone ku ; Fila dengan 6 missed calls dan 1 message-nya. Dan 1 message-nya yang telah tiba disana. Hihi.

Aku terbangun tepat pukul 15.00 WIB (baca; lebih2 dikit sih!!). Hmm..tidur yang panjang setelah masa2 yag melelahkan tapi menyenangkan. Dan aku pun selalu berniat membalas sms mu. Karena kau pasti juga tahu bahwa aku selalu senang dan selalu tertawa sendiri membaca sms mu ; padahal aku sedih. Hiks.

Dan, berbagai perencanaan yang sudah aku susun dari tadi pun tak yakin dapat ku wujudkan. Message Fila tadi telah membuktikan bahwa ia sibuk. Mr. Raj apalagi. Aku pun coba-coba menghubungi mereka. Di mulai dengan Mr. Raj. Dia malah berkata, "Harreee genneee liburan??". Dasar!!. Aku jadi menyesal mengambil keputusan menghubunginya. Hiks. Tapi mencoba sekali lagi bukanlah masalah. Kali ini pun aku menghubungi Fila. Dan ia pun menjawab, "Ini hari senin, bukan hari minggu Jay..". Huh..!! Padahal sebenarnya dia tak perlu berkata begitu. Mungkin aku sudah lebih mengetahui hari ini sebagai hari senin sejak pukul 00.01 dini hari pagi tadi; karena aku begadang.

Akhirnya keputusan ku yang terakhir adalah bisa jalan sendiri. Seperti biasanya. Ini hari senin. Aku bisa Nomat. Doakan saya.hihi. Aku pun segera mandi. Tapi, karena sedikit lapar aku pun makan siang dulu (baca; padahal sudah sore). Sambil makan aku pun membaca novel Djenar maesa ayu yang berjudul ‘Nayla’, yang baru saja ku pinjam dari seseorang semalam. Hehe. Tapi karena terlalu serius membaca, bahkan hingga makan selesai. Aku malah kembali rebahan di sofa atas sambil serius membaca ; dan aku pun kembali tertidur. Hehe.

Saat adzan maghrib berkumandang, aku baru menyadari bahwa aku telah melupakan segalanya. Aku terbangun. Dan buyarlah segalanya. Hihi. Tapi no matter lah. Besok masih libur kok. Hehe. Akhirnya keputusan keluar dan ke warnet untuk meng-update blog pun jadi pilihan terbaik. Rencananya mau sambilan ber messenger. Tapi niat pun di batalkan. Hihi.

Jay

14
Aug

Asap…

*Akhirnya…bisa juga update blog dari kantor. hihi.
* Dan saat ini menunjukkan pukul 05.20 pagi (15/08).

Untuk tiga hari yang melelahkan ;
Akhirnya ini hari terakhir aku shift 8. Yang berarti setelah aku pulang nanti, aku bisa istirahat hingga sore dan tidak terganggu dengan bayang2 untuk masuk kerja lagi di malam harinya.hehe.

Aku pun mulai menyusun rencana untuk bisa menikmati LIBUR ku sampai besok. Di mulai dengan rencana yang sedikit masuk akal, seperti nomat dan hang out bareng Mr. Raj dan Fila (tapi ku tak yakin mereka bisa atau tidak). Sampai dengan rencana yang tak pernah masuk akal, yaitu Keliling Indonesia. haha. Keliling Medan pun ku rasa tak mungkin, apalagi keliling Indonesia.

Dan sedikit berbagi cerita sejakku update blog terakhir kemarin(11/08).Pada hari tersebut aku juga chating di Messenger dengan seorang teman yang ada di Malaysia. Dan dia marah dengan apa yang telah dialami di negaranya. Negara yang ia cintai. Karena merasa menjadi warga negara yang baik. Dan malah menyalahkan negaraku. Negara yang ku cintai. Tapi aku tak pernah merasa menjadi warga negara yang baik.
Ia marah karena negaranya telah berasap tanpa bisa melihat bagian mana di negaranya yang terbakar. Ia merasa terganggu. Dia pun menuduh. Dia pun menghardik. Dan kami beradu argumen. Tapi kami tetap berteman. Hiks.
Aku hanya bisa tersenyum. Karena aku tahu dia benar. Meskipun aku tak pernah menganjurkan negaranya bersebelahan dengan negaraku. Malah sepertinya dia menyukai negaraku dan sering berkunjung. Aku jadi bingung :-).

Keputusan yang akhirnya membuatku membenarkannya adalah kejadian tadi malam (14/08). Ketika aku memang merasakan bahwa asap-asap itu telah menutupi jarak pandang di mataku. Dan membuat mataku sedikit perih ketika aku pergi berangkat ke kantor menggunakan motorku semalam.
So…sorry bro. Karena telah berso’uzon….(huehe).

Sebenernya masih ada yang mau diceritain lagi. Tapi sudah mulai pagi. Berarti Call Master pun siap untuk melancarkan serangannya. Haaakk diiisssshh…..(pussiiinnkk dah!!!).
Nanti di sambung.

Jay

11
Aug

Refresh

Libur kerja semalam membuatku sedikit lebih merasa nyaman. Yah, setidaknya bisa mengusir kepenatan yang telah menumpuk selama lima hari lalu. Tapi tetap juga ngak bisa kemana-mana. Liburnya juga hanya satu hari, mau kemana???. Untungnya hari ini aku kebagian kerja di malam hari. Jadi masih bisa menikmati waktu yag lebih panjang tanpa call master dan head set, hihi. Sebetulnya ngak ada masalah juga sih dengan kedua benda tersebut. Justru aku sekarang merasa jauh lebih terbiasa dengan mereka. Anehnya malah ngak enak juga kalo ngak bercengkrama dengan mereka satu hari saja (fiuuuhhh….maksudnyeee?????).

Dan aku pun juga ingin berterima kasih dengan seorang yang ada nun jauh disana (dimana yak???). Karena telah dengan senang hati membalas SMS serta mau membunuh sepi di malam hari dengan telfonnya -yang secara tak langsung telah membuatnya bankrut, hihi- dan membuat aku justru menikmati insomnia ku. Aku senang. Dapat berbagi cerita dan tertawa bersama hingga mengantuk (baca: habis pulsa,hihi).

Mulai pagi ini (11/08), di rumah sudah berasa sangat rame. Padahal hari biasa juga memang sudah rame. Saudara-saudara sudah pada datang. Paling ngak sedikit membantu meramai-ramaikan untuk acara yang nota bene baru akan berlangsung pada hari minggu (14/08) nanti. Dan, memang sudah menjadi kebiasaan di keluarga kami untuk saling membagi suka cita dengan keramaian *atau ini juga sudah kebiasaan seluruh manusia?. Tapi jujur saja, aku tak terlalu suka dengan keramaian. Bahkan jika di rumah terlalu ramai, aku lebih merasa nyaman untuk segera pergi dari sana agar jumlah mereka berkurang satu. Meskipun sebenarnya mereka juga sama sekali tak merasakan adanya perubahan. Karena jika aku tetap berada di sana aku juga tak terlalu vocal untuk lebih membuat keributan, karena aku lebih menyukai ‘diam’.

Aku bukan orang yang terlalu banyak bicara dan selalu dapat membuat suasana menjadi lebih ramai. Aku adalah orang yang lebih memilih diam jika aku benar-benar tidak tahu. Sama seperti ketika aku baru saja bertemu dan berkenalan dengan orang baru. Maka aku lebih memilih untuk diam dan memahami sifat yang ada padanya sambil bertanya-tanya dalam hati apakah ada daya magnetis yang cukup kuat yang dapat mempersatukan kami menjadi ‘teman’.

Di saat yang lalu, aku juga sedikit bingung. Kenapa aku memilih jurusan Ilmu komunikasi di Universitas, yang nota bene juga sangat tidak sesuai dengan bakatku. Tapi bukankah manusia di tuntut untuk selalu belajar? Agar ia lebih mengetahui dari apa yang tidak ia ketahui? *Sama seperti Muhammad SAW tak pandai membaca ketika ia di paksa Jibril untuk membaca. Aku memilih jurusan tersebut dan meletakkannya tepat dipilihan ke dua di bawah Kedokteran sewaktu UMPTN. Padahal justru aku lebih menyenangi eksakta. Mungkin karena aku sedikit bodoh, menilai komunikasi tak jauh berbeda dengan telekomunikasi. Tapi aku senang ; senang menjadi ‘bodoh’.

Ketika aku mulai belajar berkomunikasi -tak hanya dengan diri sendiri, SWT 4JJ1, dan juga dengan orang lain- aku pun mulai merasa seperti menolak takdir, sifat dan sikapku yang sudah ada semenjak lahir. Tapi inilah kenyataan. Ketika aku di ajak untuk belajar menginjakkan kaki pertama dan berjalan, padahal aku tak ingin berjalan. Ketika aku di ajak untuk mulai berbicara, padahal aku lebih senang untuk diam. Dan, ketika aku mulai di ajak untuk belajar menulis, tak hanya belajar menulis sebuah huruf pertama tapi sebuah paragraf hingga sebuah jurnal ; Ini sebuah penyegaran.

Jay